Dari Kelas Menulis Puisi Bersama Sapardi Djoko Damono


Katanya, 

Puisi, sebermulanya adalah bunyi, bukan aksara. Membuat puisi diiringi dengan membunyikannya. Puisi harus dibayangkan bisa dibunyikan atau tidak. 

Tapi puisi juga penggambaran. Penggambaran suasana barangkali maksudnya. 

Menjadi (sangat) peka dengan apapun yang terjadi adalah modal awal untuk memperkaya referensi metafora. 

Puisi untuk dihayati bukan untuk dipahami, 


-Indonesian Reading Festival, Sabtu 5 Desember 2015-



Di akhir sesi, kami diminta membuat puisi lalu peserta yang berani dipersilakan membacakannya di depan, untuk kemudian dinilai oleh Pak Sapardi. 

2 tanggapan untuk “Dari Kelas Menulis Puisi Bersama Sapardi Djoko Damono”

  1. Mana puisi elu, Kiw? Hihihi…

  2. itu yang difoto, De. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: