Ra Iso Kayak Daiso

Ra Iso Kayak Daiso

Kalian pasti tau Daiso. Temen-temen saya, sih, udah sering banget bercerita beli ini-itu secara tiba-tiba saat mampir ke sana. Sore tadi, saya pertama kalinya saya ke minimarket pernak-pernik “ajaib”  dari Jepang berharga  murah itu

“Yang ini harganya berapa, mbak?” tanya saya sambil menunjuk sebuah kotak plastik.

“Semua yang ada di sini 25 ribu, mas.”

“Wah!”

Ternyata Daiso sebaik itu yah. Saya lalu berkeliling. Apapun bendanya, yang saya pikirkan adalah, ini bisa berguna jadi apa yah, kayaknya asik nih untuk dibeli. Toh, harganya sama murahnya.

Di sekitaran kotak yang saya tanyakan tadi itu, ada banyak kotak-kotak lain. Ukurannya beda-beda, ada yang 25×25 cm, ada yang 10×20 cm tapi ada gagangnya, ada juga yang bentuknya kayak kerangjang. Semua harganya setara, 25 ribu.

Antusiasme saya tiba-tiba menurun ketika pindah ke rak lainnya. Melihat senter jepit yang sama persis seperti yang biasa dijual di bus kota seharga Rp 10.000.  Di rak lain, ada juga kaos kaki yang coraknya lucu, pun bahannya enak. Kalau disandingkan dengan Sport Station, kaos kaki kayak gitu biasanya bisa kita dapat senggaknya kalau ada I Gusti Ngurah Rai di dalam dompet.

Kalau dipikir-pikir, timpang yah. Sesuatu yang punya nilai lebih tinggi (dan mungkin biaya produksinya juga tinggi) disamakan harganya dengan sesuatu yang nilainya lebih rendah.  Walau pun di balik sistem harga seperti itu ada subsidi silang antar produk, tapi kan, gimana perasaan si pembuat kaos kaki supernyaman dan estetik itu coba?

Dulu, waktu kuliah Statistika Sosial, dosen saya punya cara unik dalam ngasih penilaian. Saya yang bahkan nggak ngerti apa itu regresi, ordinal, apalagi SPSS, bisa dapet nilai B. Sama persis kayak nilai temen sekelas saya yang emang bercita-cita ngerjain skripsi kuantitatifnya sendiri. Bagi saya, itu adalah rezeki, bagi teman saya, itu adalah sumber kekesalan.
.
“Kesetaraan itu belum tentu adil.” Saya ingat Rima pernah ngomong gitu, setelah baca bab Gender dan Pembangunan di buku Sosiologi Umum punya adiknya.

Okeh, atas nama keadilan, saya nggak jadi jajan di Daiso #tapiboong .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: