Pulang Ke Rumah Yang Sama

Di Minggu pertama kami pacaran, Rima bertanya tentang apakah yang paling membuat gue ingin pacaran sama dia. Gue mencoba mikir panjang, tapi ujung-ujungnya cuma punya jawaban satu kata saja.

“Karena insting, Kak,” kata gue. Saat itu gue belum manggil Rima dengan sebutan “neng” sebagaimana sekarang.

Saat kemarin, 11 Februari (Minggu) sore, di rumah Rima, gue akhirnya ngajak Rima nikah pun karena gue  ngerasain banget insting yang kuat.

Sebelumnya gue pernah mikir kapan waktu yang tepat untuk ngajak Rima nikah, jawabannya adalah ketika gue ngerasa dapat ‘panggilan’ untuk melakukannya. Nah, saat itu, insting gue berkata bahwa panggilannya sudah datang dan gue harus menyambutnya.

Yang sudah pasti dalam hidup itu hanyalah masa lalu. Kita sudah mengetahuinya dan nggak akan bisa berubah. Gue rasa, pengalaman-pengalaman kita di masa lalu secara natural melahirkan dan mengembangkan insting untuk kita menghadapi masa sekarang dan masa depan. Itulah mengapa gue memercayainya.


Yang gue katakan pada Rima di ruang tamu rumahnya itu adalah kalimat yang sudah gue rencanakan sebenarnya. Gue sempat menulis surat nggak sampai satu halaman yang isinya tentang ajakan untuk nikah.

“Rima, aku mau kita bisa pulang ke rumah yang sama tiap hari. Apakah kamu mau juga? Aku mau nikah sama kamu,” kata gue ujug-ujug.

Dari parasnya, gue lihat Rima nggak siap dengan momen itu. Ya, mo gimana, masa gue mesti bilang dulu sehari sebelumnya, “Rima besok aku mau ngajak kamu nikah, siap-siap yah.” Kan, nggak mungkin.

Alhamdulillah, Rima punya keinginan yang sama.

Tangan kami berpegangan erat saat itu, di samping kami, ada foto besar keluarga Rima nempel di tembok. Ayah, Mamah, Tasya adiknya, serta Rima di masa 3 tahun lalu menatap kami dengan senyum. Mochi dan Milo, dua kucing Rima mungkin mendengarnya dan kemudian ngegosipin bersama kucing-kucing komplek lainnya.

Setelah sah menjadi calon istri-suami, obrolan kami saat itu merembet cepat ke hal-hal besar soal pernikahan. Bukti bahwa pikiran-pikiran (dan juga hasrat?) tentangnya sudah numpuk dari lama.  Begitu bisa diobrolin, jadi duaar, pecah deras.

Sebelumnya, tuh, tiap kali ngomongin konsep keluarga, pernikahan, atau suami-istri, gue dan seringnya, sih, Rima, memakai perumpaan. “Kalau kamu nikah nanti…”, “Gimana coba nanti kalau udah nikah, kamu masih begini sama pasangan kamu nanti?”

Gue sebel banget tiap Rima ngomong gitu. Seolah-olah ia nggak yakin bahwa yang akan gue nikahi adalah dia. Tapi gue maklumi, karena saat itu gue belum memantapkan diri.

Namun sekarang, kami menjadi dua subyeknya.

Tentang mengapa gue cinta sama Rima dan sebaliknya, akan gue ceritakan kemudian.

Begitu juga tentang obrolan-obrolan kami seputar pernikahan, rumah tangga, dan keluarga. Nanti gue ceritakan.

Dan akan banyak cerita-cerita lagi, karena itu gue bikin blog ini. Gue namai RRUMAH karena kami akan pulang bersama ke sini membawa cerita-cerita.

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: