Tiga Hari Sebelum Pertemuan Keluarga

Setiap kali ditanya kapan kita mulai serius mempersiapkan nikah, Rima selalu menjawab “Habis lebaran”. Dan sekarang, momen itu sudah datang. 

Minggu, 1 Juli besok, keluarga gue dan Rima akan bertemu. Perkenalan pertama sebelum pertemuan keluarga yang lebih besar lagi. Kami menyebutnya ini sebagai pertemuan informal.

“Rizki nggak mau kita ketemu keluarga Rima cuma pas di acara lamaran. Rizki pengen kita bisa lebih akrab. Jadi, ada pertemuan informal dulu,” kata gue pada mamah papah suatu waktu. 

Yang gue maksud lamaran itu adalah pertemuan keluarga besar. Gue dan Rima sepakat nggak pake ritual lamaran atau tunangan.

Nah, di pertemuan keluarga besok itu, topik yang perlu diangkat juga tentang konsep pernikahan dan alur jadwal persiapan serta acara yang perlu dipersiapkan. Agar mantep, gue dan Rima mulai gencar brainstorm dan bertanya sana-sini soal pesta pernikahan. 

Gue dan Rima punya harapan untuk bisa bikin pernikahan yang sederhana. Soalnya, kami mencoba mikir jauh. Gue dan Rima akan tinggal di rumah baru yang kosong. Ada rumah tangga yang perlu kami persiapkan untuk hidup bersama. 

Kami mulai perencanaan  pesta pernikahan dengan menjabarkan konsep pernikahan. Di Excel, kami menuliskan daftar undangan, perkiraan anggaran, rencana pemasukan, pilihan tempat impian, daftar rekomendasi jasa katering dan dekorasi. 

Setelahnya, kami coba kunjungi tiga tempat pesta. Tempat pertama adalah sebuah gedung milik TNI AD. Harganya murah, tempatnya besar dan megah, hanya saja kelihatan muram. Tempat kedua adalah aula masjid yang kami cek hanya sambil lalu saja. Nah, di tempat ketiga inilah gue ngerasa cocok banget. Rasanya sama kayak waktu pertama kali ketemu Rima. “Ini dia nih!” 

Tempatnya berupa hmm susah dideskripsikan. Di situ ada guest house, ada taman berpohon tinggi, ada pendopo dan pelataran. Areanya luas banget! 

Harga sewa tempat semi outdoor itu pun masih dalam jangkauan anggaran. Cuma saja, ada jebakannya. Kami mesti menggunakan jasa katering rekanannya. Kesemuanya mewah. Harganya bisa dua kali lipat dari katering lain. 

Lalu gue mikir-mikir, harga katering itu bahkan lebih mahal dari ongkos membeli perabot rumah dan renovasi. 

Gue resah. 

Sampai tadi siang, sembari nunggu pecel lele dan ayam jadi, gue dan Adi ngobrol soal pernikahan. 

“Di, setelah nikah, lo sebegitu mengenangnya nggak pesta pernikahan?” tanya gue 

“Nggak sih, Ram. Gue sama Hana juga sempet nyesel, kenapa yah, kami mau segitu banyaknya ngeluarin uang. Padahal lebih butuh biaya untuk ngisi rumah,” kata Adi. Hana sekarang hamil sekitar 3 bulan. Beberapa waktu lalu, Adi kerap membicarakan ongkos lahiran yang harganya sama dengan ongkos sewa gedung untuk pernikahan. 

Sekali lagi, gue mau bilang. gue dan Rima berencana untuk bikin pesta pernikahan yang sederhana. Tapi agaknya itu susah banget terjadi. Kami tahu orang tua kami juga punya kehendak untuk merayakan  momen penting nan sakral anaknya. 

Tapi, yah, untuk menikah yang sederhana, yang hanya mengeluarkan uang sedikit saja, mesti jadi harapan. Secara teknis, itu lebih mudah tercapai, kan? 

Gue pikir, membuat pesta pernikahan yang wah itu berpotensi bikin kita abai sama esensi nikah sebenernya. Kita sering menganggap bahwa mempersiapkan pernikahan itu sama dengan mempersiapkan pesta. Sementara bahasan tentang penyesuaian diri untuk tinggal bareng,  peran-peran dalam rumah tangga, kesiapan punya anak, rencana karier, dll, dibahas sekenanya di perjalanan atau nanti saja sambil bulan madu. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: