Menceritakan Rencana Nikah Ke Teman Dekat

Gue sempat bercita-cita untuk menyembunyikan rencana pernikahan dan baru memberi tahu orang banyak saat sudah dekat waktunya saja. Pertama, biar surprise. Kedua, biar gue terbebas dari perasaan bahwa gue mesti begini-begitu dalam mempersiapkan pernikahan. gue mau gue dan pasangan bener-bener menjiwai (rencana) pernikahan kami benar-benar dulu sebelum akhirnya orang tahu. Pun, ada resiko kita ketimpa jinx kalau menceritakan rencana.

Tapi menyembunyikan itu susah, ternyata.

Atau lebih tepatnya, menceritakan rencana pernikahan itu ternyata berfaedah.  Bikin lebih enteng dan mantep. Asal ke orang yang tepat ceritanya kali ya.

Gue sudah membuktikannya. Satu persatu temen dekat gue ceritain juga akhirnya. Gue cerita ke Dea, Abriani, Jeanett, Hira, Adi dan yang paling seru adalah saat cerita ke temen sebaya, yaitu Tito serta Lodar.
Gue kirim pesan ke Tito dan Lodar di waktu berdekatan beberapa hari lalu. Pertama ke Tito:

“To, gue udah cerita belum sih kalau gue berencana mau nikah? Sekarang sedang persiapan.”

“Gue juga, Ram. Tadinya mau nelpon lo. Gue tanggal 13 lamaran dan Desember nikah.”

“Fak! Sama. Haha. Malah lo lebih duluan nih.”

Kabar Tito mau nikah ini sampe-sampe saya twit. Maklum, saya girang campur heran. Sebabnya, tiap kali membicarakan nikah, walau pun Tito sedang berpacar (Tito selalu totalitas juga kalo pacaran) tapi dia selalu mengurungkan niat untuk menikah.

“Gue nggak yakin gue akan menikah, Ram,” kata Tito tahun lalu. Saat itu Tito jomlo, baru beberapa bulan lalunya ia putus.

Maret lalu, kami ngobrolin nikah lagi. Tito bilang, “Gue udah bilang ke Nisa (pacarnya Tito), gue baru mau nikah kalau udah 35 tahun kayaknya.”

Dan sekarang, Tito mau nikah.

Di obrolan beberapa hari lalu itu, yang kami bahas bukan lagi soal kemantapan pilihan, melainkan urusan teknis menikah. Tito mau menikah sederhana, anggarannya kurang dari Rp 70 juta, katanya. Ia bertekad cuma ngundang 200 orang. Rekan kerjanya saja nggak akan dia undang. Ia ngaku udah negosiasi dengan keluarga si pacar dan akhirnya mereka setuju.

Gue pun bercerita secuil rencana pernikahan gue dan Rima. Jujur, gue iri Tito bisa mantap untuk nikah sederhana.

Nah, yang menarik adalah respon Lodar.

Gue udah lama banget nggak bertemu Lodar. Tiap kali merencanakan ketemu, tiap kali pula gagal. Lodar sibuk mengurus anak dan istrinya, gue sibuk kerja dan pacaran. Kami jadi enteng membatalkan janji.

Gue pun nggak terlalu sering nge-chat Lodar.

Maret lalu, gue pernah iseng nanya ke Lodar setelah kami sepakat membatalkan janji.

“Dar, satu pertanyaan dong. Setelah nikah lo pernah bosen nggak?”

“Bosen, Ki, seperti ketika lo single pasti juga pernah bosen.”

“Hoo. Tapi nggak lama ya bosennya?”

“Bedanya kalo single dan bosen, lo cuma butuh kompromi dengan diri sendiri untuk membuat jadi nggak bosen. Nah ini komprominya berdua, lebih ribet, tapi kadang justru menantang 😁. Makannya harus ada kejutan-kejutan, sama aja kayak hidup aja, Ki. Lagi bosen sama kantor, bikin 30 Hari Bercerita, bikin Card to Post, gitu-gitu lah. Lo lebih jago me-manage hidup dari pada gue”

Selasa kemarin, setelah chat Tito gue chat Lodar.

“Daar. Gue mau nikah. Doain ye. Dan gue bakal nanya-nanya soal persiapannya.”

Lodar menjawab dengan tiga kata. “Hehe. Awas nyesel.”

“Wkwk. Berdasarkan pengalamanlu yah?”

“Ketemuanlah. Nanti cerita.”

“Tito juga mau nikah, Dar.”

“Iya. Nggak apa-apa. Kelemahan dia cuma belom nikah, kalo sudah nikah, dia bisa jadi sempurna.”

“Uwoow. Lu sempurna dong sekarang?”

“Itu si Tito.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: