Tanggal Cantik

Hari ini adalah tanggal 7 di bulan 7. Gue baru menyadari bahwa ini adalah tanggal cantik siang tadi.

Jadi, gue dan Rima hari ini punya rencana untuk survei satu tempat resepsi. Sebuah masjid di bilangan Cinere.

Namun, rencananya bertambah di pagi hari. Rima ngajak mampir ke sebuah gedung di Pondok Labu untuk test food sebuah jasa katering yang paling murah yang kami temui.

Ini adalah pengalaman pertama kami test food. Tapi karena cerita kali ini bukan tentang test food maka nggak akan gue panjangin, walau gue punya kesan tersendiri tentang \’ritual\’ satu itu.

Selesai test food rencana kami malah bertambah lagi. Satu lagi jasa katering memberi kabar bahwa ada klien mereka yang menikah di siang tadi. Kami bisa datang untuk test food. 

Tempatnya nggak terlalu jauh dari Cinere, yaitu di Mesjid Pondok Indah. Karena gue penasaran juga dengan gimana situasi resepsi di MPI, maka gue semangat.

Nah, selama perjalanan dari Cinere-Pondok Indah itu, senggaknya kami melihat lima tempat yang memasang janur kuning di depannya. Selain bikin kami sadar bahwa sekarang adalah tanggal cantik, keuntungan lainnya dari banyaknya pernikahan yang kami lewati adalah kami bisa tahu lokasi resepsi lainnya. Lumayan, nambah referensi.

Asiknya, dua dari pernikahan itu berlokasi di tempat yang memang kami incer. Bahkan, nih. Di masjid yang kami ingin cek pun sedang ada persiapan pesta pernikahan untuk malam hari. Andaikan kami punya cukup waktu dan gue memakai baju formal, maka semua resepsi itu akan kamu masuki (Kami siap pasang muka tembok untuk menyusup) biar dapet gambaran gimana situasi dan dekorasi pesta pernikahan di situ.

Hehe.

Di perjalanan, gue berpikir, kenapa orang ingin menikah di tanggal cantik. Jawabannya sederhana, agar pernikahannya gampang diinget.

Lalu pertanyaan lain mencuat, bukankah di Agustus nanti ada tanggal yang lebih cantik lagi, yaitu 18 08 18.

Barangkali, di tanggal itu pun akan ramai pernikahan juga.

Nah, yang gue pikirkan juga adalah, bukankah lebih seru kalau kecantikan tanggal pernikahan itu kita (pasangan) yang ciptakan sendiri. Bukan sekedar mengaju ke kesamaan angka tanggal, bulan, tahun?

Papah gue, ketika tahu gue dan Rima berencana nikah di Desember langsung bertanya, \”Desember itu di kalender hijriah bulan apa? Bukan Mulud, kan? Kalau bulan Mulud sebaiknya nggak deh. Ada itung-itungannya\”

Walau gue nggak paham apa risikonya, tapi gue bersyukur juga saat tahu Desember tanggal 1 itu sudah bukan bulan Mulud lagi.

Jadi, apa kecantikan dari tanggal 1 Desember bagi kami?

Nggak ada yang spesial dengan tanggal itu sebenarnya, kecuali kesamaan dengan nomor belakang hape gue, 112. Haha.

Yang jelas, kami memilih waktu tersebut karena pertimbangan yang penting. Dari sejak mengajak Rima nikah di Februari lalu, gue sepakat untuk ngikut dengan rencana Rima. Ia mau nunggu ulang tahunnya yang ke-25 dulu sebelum menikah. Rima lahir 13 November.

Ada sedikit keki sih, karena \”Duh, lama banget. Aing kan udah ngebet.\” Haha, tapi mental dewasa gue setuju banget. Rentang waktu yang tersedia itu kami butuhkan untuk mempersiapkan diri.

Gue suka dengan Desember karena itu sekaligus jadi penutup tahun. Filosofinya dapet, masa lajang berakhir, dan di tahun baru mulai hidup baru sama Rima. Uhuy.

Cantik, kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: