Ayah

Sejak sebulan lalu, gue sadar banget kalau duka udah mengintai. Dari segala penjuru. Kami sekeluarga pontang-panting mengelak dan bertahan. Tapi takdir gak pernah bisa disiasati.

Kemarin lusa, duka itu menyergap. Ayah (bokapnya Rima, kakeknya Rania) berpulang setelah ngelawan sakitnya hampir sebulan.

Hari-hari ketika dia sakit adalah hari-hari kami  merawat harapan sebisa mungkin. Gue sempat ngalamin jam 11 malem ke tempat refill oksigen dan balik lagi jam 4 subuh. Di saat itu, gue iri banget sama ikan-ikan di toko akuarium. Mereka  bisa dapet asupan oksigen tanpa henti.

Selama seminggu, kami yang sembuh duluan bergantian ngerawat ayah di UGD. Hilir-mudik di sarang duka sungguh gak gampang. Nestapa para pasien terus menggelayut di pelupuk mata walau kami udah menyibukkan diri di rumah.

Segala saran terapi medis  kami upayakan dengan penuh semoga. Kami juga percaya pihak RS udah ngelakuin yang terbaik yang mereka bisa. Tapi, saturasi oksigen ayah masih belum bisa dapet ponten 95. Mentok di 90, seringnya di 80-an. Sampai di Sabtu pagi kemarin, 15 menit setelah Rania selesai main air di halaman, suster ngabarin kondisi ayah kritis.

𝘛𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘢𝘴𝘢𝘵𝘪.

Sekarang, hari-hari kami adalah tentang berdamai dengan andai-andai:

“Ayah gimana ya di atas sana?”

“Ayah pernah bilang, nanti kalo Rania udah TK, ayah aja yang anter jemput.”

“Padahal ayah baru operasi tangannya ya. Harusnya sekarang dia udah kuat gendong-gendong cucunya.”

“Biasanya kalo kita pulang ada ayah duduk depan pintu.”

“Ayah dua minggu lagi ulang tahun.”

“Harusnya ayah jadi imam solat ied lagi. Sekarang kamu, lho. Wayoloh, khotbah, lho.”

“Aku nyesel banget kemarin kita belum sempet foto keluarga.”

Bruk. Sedihhhhhhhh

Tapi tapi tapi… di antara kenangan dan andai-andai yang numpuk itu,  ternyata yang paling sering  gue inget kalo mikirin ayah adalah ketika dia senyum sumringah, persis kayak profile picture-nya yang dia edit pake face app. Dan tentu, ekspresi hebohnya ketika ngeladenin Rania yang pengen main terus.

Oh, ayah ingin mewarisi keceriaannya.

Ayo, Bu, Ran! Matahari udah bersinar terang, saatnya kita usahain cerahnya hari. 🌻

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: