Bekal di Punggung

Akhirnya kami berenang lagi di kolam besar depan komplek. Rania seneng banget. Dia terpana melihat hamparan air yang terakhir ia lihat tiga bulan lalu.

Dalam tiga bulan itu, pertumbuhan Rania cukup pesat. Banyak kebisaan baru. Dan ada banyak kebisaan baru itu gue temui pas dia lagi berenang kemarin.

Bulan Mei, Rania masih suka kepleset pas jalan di kolam. Dia juga masih pengin dipengangin terus. Lepas sedikit dia langsung goyah. Tapi sekarang, Rania udah bisa jalan sendiri. Gue mengikutinya dari belakang tanpa megangin.

Sekarang pun Rania berenangnya udah pake pelampung tangan. Sekalipun dia kepleset, dia bisa menjaga keseimbangan dan gak tenggelam.

Gue sempet ngegendongnya sambil berenang-renang. Tapi dia sering banget minta dilepas. Kami melakukannya di kolam besar padahal. Jadi dia suka kelelep dan menelan air. Tapi, dia kekeh melepas-lepas pegangan gue seolah-olah dia bilang, “Ranran pengen belajar. Biar bisa berenang sendiri.”

Saat balik ke kolam cetek, gue dan Rima nyoba membiarkan Rania main sendiri. Walau cetek (sedada Rania) kolamnya luas banget. Ternyata, Rania bisa asik sendiri tuh. Dia jalan menjauh dari kami pada keraguan. Yang ada di kepalanya cuma kesenangan. Gue dan Rima menyaksikannya dari jauh. Dari belakang.

Di momen itu lah, pikiran gue traveling. Membayangkan masa depan yang rasanya dekat sekali. Semakin Rania tumbuh dan menjadi dewasa, gue dan Rima bakalan sering melihat Rania dari belakang. Dari kejauhan.

Rania besar kemungkinan bakal jadi anak yang suka keluar rumah. Sekarang ini aja, dia udah tahu tujuan kalau lagi diajak jalan-jalan di komplek. Mau ke warung, mau liat rumah yang ada guguk, mau masuk ke rumah yang ada kura-kura.

Besok-besok, tujuannya mungkin akan semakin banyak.

Sekarang, Rania masih harus ditemani, tapi suatu saat dia akan punya perjalanannya sendiri.

“Bu, kita udah siap belum yah?” kata gue ke Rima.

“Ah, kalo aku sih bakal jadi orangtua yang sering ngintilin anaknya pergi. Hehehe,” timpal Rima.

“Tapi gimana tuh kita, kita harus nyiapin, Bu.”

“Nyiapin diri? iya.”

“Nyiapin bekal di punggungnya Rania.”

Momen reflektif itu gue anggap sebagai anugrah menjelang perayaan dua tahun Rania, dua tahun gue dan Rima menjadi orang tua.

Selamat ulang tahun, Rania.

Sekarang sampai nanti, hidup bapak dan ibu adalah tentang menyiapkan bekal dipunggungmu.

Semoga cukup! Cupppp 😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: