Orangtua saat kita dewasa – #30hbc2223

Gue kira, pas kita dewasa kita bisa hidup mandiri dari orangtua. Tapi gue baru sadar, semakin gue dewasa, maka semakin berumur orangtua gue. Kondisinya naik turun.

Mendapat kabar orangtua sakit itu ternyata berat.

Jadi ceritanya, mamah sakit mendadak. Padahal, paginya gue baru ketemu dan dia ceria. Siang gue pulang. Sore balik lagi karena papah nelpon dengan nada cemas.

Gue pun langsung tancep gas ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, pikiran gue udah kemana-mana. Dalam setahun terakhir ini, mamah cukup sering nge-drop dan di bawa ke UGD. Kali ini, sakitnya cukup serius. Senggaknya itu yang gue tangkep dari nada bicara papah.

Nyampe UGD, pas sadar kedatangan gue, tau gak mamah bilang apah. Dia minta maaf. Heeeeu. Gue coba kuat-kuatin dan alihin pikirannya dari pesimisme.

Tahun lalu, pas mamah kena Covid. Dia juga suka nelpon pas lagi demam tinggi. Dia minta maaf.

Mamah emang suka agak dramatis, tapi ngedenger dia minta maaf seolah-olah dia udah hampir sampai di perpisahan, berat.

Gue milih untuk nemenin mamah rawat inap. Selama nemenin, mamah suka minta dipijetin kakinya, punggungnya, tangannya. Rasanya, baru kali ini gue dan mamah sedekat ini.

Kulitnya kerasa dingin.

Gue jadi ngerasa agak malu, kemana aja gue selama ini gak pernah mijetin mamah.

Semakin dewasa, semakin gue tau banyak banget yang uda diperjuangin orangtua. Dan banyak juga yang mesti gue perjuangin balik di depan. Gue gak akan pernah siap untuk kehilangan.

Tulisan ini dibuat di samping dia yang baru selesai sarapan pagi dan udah minta pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: